Beranda Nasional

Pengendara Nekat Nerobos Banjir Akibatnya Sejumlah Sepeda Motor Mati

455
0
Pengendara Nekat Nerobos Banjir Akibatnya Sejumlah Sepeda Motor Mati
Sejumlah Sepeda Motor Mati Mendadak Saat Terobos Banjir Dekat Fly Over Pekanbaru Pasar Pagi Arengka Dok. tribunpekanbaru/rizkyarmanda

BERITA RIAU, PEKANBARU- Nekat menerobos genangan air di dekat kawasan flyover Pasar Pagi Arengka, Pekanbaru, Selasa (11/12/2018), sejumlah sepeda motor mengalami mogok.

Sepeda motor mendadak mati saat tengah melintas di genangan air yang tingginya sekitar lutut orang dewasa itu.

Salah satu pengendara bernama Dayat (34), mengaku buru-buru hendak pergi ke pasar untuk membuka kedai.

Dia berangkat dari rumahnya di Jalan Cipta Karya, menuju ke Ramayana Pusat.

“Saya tak nyangka juga rupanya di tengah-tengahnya dalam, matilah motor tu jadinya,” ungkap Dayat sembari mencoba mengengkol sepeda motornya.

Cukup lama juga Dayat berkutat dengan sepeda motor bebek miliknya itu.

Diutak-atiknya busi sepeda motor, berharap bisa segera menyala.

Sekitar 20 menit kemudian, barulah sepeda motor milik Dayat bisa hidup.

Dia pun langsung bergegas tancap gas melanjutkan perjalanan.

8 RW Terendam

Ada delapan RW yang terkena dampak banjir di Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, Selasa (11/12/2018).

Sebagian besar rumah warga yang ada di RW itu terendam banjir.

Banjir menggenangi kawasan RW 7, RW 8, RW 9, RW 10, RW 11, RW 16, RW 17 dan RW 25 di Kelurahan Sialang Munggu.

“Ada delapan RW kena dampak banjir yang kena dampak banjir,” papar Lurah Sialang Munggu, Tapip Suhadi kepada Tribunpekanbaru.com, Selasa siang.

Menurutnya, kondisi banjir paling parah ada di RW 17.

Ada delapan titik yang kena dampak banjir.

Delapan titik itu yakni RT 2 Pinaringan air, RT 3 dan RT 4 Taman Permata, RT 5 Perumahan Safitra, RT 6 Anajim dan Datuk Tunggul, RT 7 Alam Sakinah dan RT 9 Palutan Indah.

Ketua RW 17, Sucipto memperkirakan ada 500 rumah digenangi banjir.

Kawasan yang terkena dampak paling parah yakni Datuk Tunggul dan Bunga Enim.

da lokasi pengungsian dan dapur darurat yang berdiri secara swadaya di sana.

Terbangun Saat Kasur Basah

Kasur basah membangunkan Aguslianto dari tidur lelapnya, Selasa (11/12/2018) dinihari.

Pria 62 tahun ini kaget saat air sudah menggenangi kasurnya.

Banjir ternyata sudah masuk hingga ke kamarnya.

Warga Perumahan Bunga Enim 1, Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru bergegas bangun dari tempat tidurnya.

Sebab air setinggi 20 cm sudah menggenangi kamarnya.

Pria itu langsung bergegas melihat kondisi ke luar rumah.

Hujan deras masih mengguyur di luar rumahnya.

Ia harus bertahan dengan kondisi tersebut jelang subuh.

Pagi hari langsung saya mengungsi bersama warga lainnya,” papar pria berkumis kepada Tribunpekanbaru.com.

Warga lainnya di kawasan Bunga Enim, Titin juga dikejutkan dengan banjir yang datang mendadak.

Wanita 50 tahun itu masih terlelap saat banjir datang.

Ia kaget lantaran air hampir setengah meter sudah menggenangi rumahnya.

“Saat itu pukul empat, kami semua masih tidur. Kami tidak sadar air sudah tinggi, barang- barang juga sudah terapung,” ujar ibu dua anak ini.

Titin sempat berupaya berkemas, tapi sayang air terus naik hingga ia berupaya menyelamatkan diri.

Wanita paruh baya ini masih bertahan di Masjid Al Hidayah, Jalan Cipta Karya Ujung bersama kaum ibu, sejumlah bayi dan balita.

Warga sekitar secara swadaya mendirikan dapur darurat guna membantu pasokan makanan bagi warga terdampak banjir.

“Walau demikian, kami minta bantuan juga bagi anak-anak. Bantuan berupa susu dan makanan bayi sangat kami butuhkan,” terangnya.

Ketua RW 17 Kelurahan Sialang Munggu, Sucipto mengatakan bahwa RT 1/RW 17 Kelurahan Sialang Munggu jadi lokasi parah terdampak banjir.

Ada 300 jiwa yang terpaksa mengungsi.

Sebab banjir merendam rumahnya.

“Jadi untuk sementara mereka mengungsi, sebab mereka tidak bisa menempati rumahnya,” papar Sucipto.

Ia menduga bahwa banjir yang merendam RW 17 Kelurahan Sialang Munggu adalah banjir kiriman. Ia belum memastikan kapan banjir bakal surut. Sebab kejadian serupa sempat terjadi tiga tahun lalu.

“Kalau banjir memang ada rutin terjadi. Tapi kalau tiga tahun ini, ini yang paling parah,” terangnya.

 

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com